Belakangan ini, istilah self-reward semakin marak terdengar di kalangan anak muda. Banyak
dari mereka yang memberi hadiah untuk diri sendiri setelah merasa lelah menghadapi hari.
Bagi sebagian ana muda, self-reward dianggap menjadi salah satu cara mudah dalam menjaga
kesehatan mental.
Namun, di balik tren membeli hadah untuk diri sendiri, muncul pertanyaan mengenai batas
antara apresiasi diri dan konsumtif. Fenomena ini tidak hanya tentang sesekali membeli hadiah,
tapi juga mencerminkan bagaimana generasi Gen Z seringkali mencoba menyeimbangkan
tekanan keuangan dengan kebutuhan emosional mereka.
Sisi positif dari tren ini adalah membangkitkan semangat untuk menjaga kesehatan mental dan
memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk merasa dihargai. Namun, jika tidak diatur dengan
tepat, kebiasaan ini bisa berubah menjadi kebiasaan belanja berlebihan yang mengganggu
tabungan dan perencanaan keuangan jangka panjang. Yang terpenting adalah mencari
keseimbangan antara menikmati hasil kerja dan mengelola keuangan secara bijak, agar
penghargaan pada diri sendiri tidak mengorbankan masa depan.
