Malang, 23 Agustus 2025– Seniman asal Malang, Bambang Sarasno atau akrab disapa SAR, kembali menghadirkan gebrakan artistik lewat pameran bertajuk “Titi Rasi”. Pameran ini akan digelar di Griya Shanta mulai 1 Oktober 2025, menampilkan dua belas karya batik monumental bertema rasi bintang zodiak.
Tidak berhenti pada pameran visual, “Titi Rasi” dirancang sebagai pengalaman multisensori: menggabungkan motif batik dengan cahaya, proyeksi visual, serta performa tubuh. Dengan pendekatan ini, batik diperlakukan bukan sekadar artefak tradisi, melainkan ruang yang hidup, bergerak, dan berdialog dengan penonton.
Judul pameran ini diambil dari bahasa Jawa, titi yang berarti menapaki atau mencermati, dan rasi yang berarti gugus bintang. SAR menafsirkan konstelasi langit bukan hanya sebagai simbol kosmos, tetapi juga sebagai refleksi manusia atas dirinya sendiri.
Dua belas karya yang disajikan berukuran besar (3 x 2,5 meter) dan menjadi representasi dari zodiak. Motif batik diolah dengan pendekatan eksperimental: menyatukan tradisi dengan sensibilitas kontemporer. Hasilnya adalah karya yang menghadirkan kosmos dalam motif kain sekaligus dalam pengalaman ruang.
Secara estetika, “Titi Rasi” berpijak pada gagasan post-classic—sebuah upaya melampaui batas klasik tanpa meninggalkannya. Batik dan kosmologi Jawa dijadikan fondasi, lalu dinegosiasikan dengan teknologi serta ekspresi kontemporer. Dengan cara ini, pameran menghadirkan bahasa visual yang setia pada akar tradisi, namun berani membuka percakapan baru dengan zaman.
“Batik bagi saya bukan sekadar motif di kain, tetapi ruang pengetahuan. Ia bisa menjadi jembatan antara manusia dan langit, antara tubuh dan kosmos,” ungkap SAR.
“Dalam Titi Rasi, saya ingin menghadirkan batik bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dialami—sebagai ruang yang bergerak, berinteraksi, dan memantulkan energi semesta.”
SAR lahir di Malang pada 1957 dan telah berkarya lebih dari empat dekade. Ia dikenal karena menggabungkan batik dengan seni pertunjukan sejak awal 1980-an. Karya “Metamorfosa Batik Performing Arts” (2013) menjadi tonggak penting yang memadukan batik, tari, musik, dan teater. Dalam beberapa tahun terakhir, ia fokus pada seri “Batik Bertabur Bintang”, yang kini menjadi inti dari pameran “Titi Rasi”.
Selain aktif berkarya, SAR juga berperan besar dalam pengembangan komunitas seni: mendirikan Sanggar Seni Rupa Arti (1975), aktif di Dewan Kesenian Malang (1978–1986), membangun Lembaga Kesenian Indrokilo (1982–1986), hingga mendirikan Teater Komunitas (2013). Ia juga pernah mewakili Indonesia dalam jejaring seni internasional Encompass Trust (2009–2016).
Pameran “Titi Rasi” bukan hanya perayaan batik, tetapi juga ajakan untuk merenungkan kembali relasi manusia dengan semesta. Dengan menyatukan batik, cahaya, tubuh, dan simbol kosmologis, pameran ini menjadi peristiwa budaya yang menghubungkan angkasa dengan aras manusia.
Acara ini terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, seni kontemporer, dan kosmologi.
