KOTA MALANG – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,22 persen pada triwulan III 2025, sedikit lebih tinggi dari rata‐rata nasional sebesar 5,04 persen, membuka momentum strategis bagi penguatan literasi keuangan di Malang Raya. Bank Indonesia Kantor Perwakilan Malang merespons dengan menyelenggarakan program Training of Trainers (ToT) Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah untuk para pelaku utama layanan keuangan dan ritel.
Kegiatan ToT CBP Rupiah ini diikuti oleh sekitar 140 peserta yang berasal dari peran‐kunci seperti cash handler, pelaku ritel, anggota Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), serta penyelenggara jasa pengolahan uang rupiah (PJPUR) di wilayah Malang Raya. Para peserta dibekali materi tentang tiga pilar utama: mencintai rupiah dengan mengenali keasliannya dan makna simbolnya, membangkitkan kebanggaan dalam penggunaannya sebagai instrumen kedaulatan, serta memahami cara penggunaan uang dengan bijak dan relevan di era digital.
Dalam kondisi di mana tren transaksi non-tunai dan sistem pembayaran digital semakin mendominasi, BI Malang menilai bahwa edukasi terhadap uang fisik dan peranan rupiah masih sangat relevan. Menurut Kepala KPw BI Malang, program ini ikut menekankan agar pelaku ekonomi memahami prosedur penggantian uang rusak, pelaporan uang yang diragukan keasliannya, serta sistem pembayaran digital seperti QRIS dan fitur lintas‐negara (cross-border) yang telah diterapkan.
Dari sisi pelaku usaha ritel dan cash handler, inisiatif ini dianggap tepat namun menyimpan tugas tambahan: selain mendapatkan pengetahuan, mereka juga dihadapkan pada tantangan implementasi di lapangan. Pengelolaan uang tunai yang aman, pelatihan staf untuk transaksi digital, serta adaptasi terhadap prosedur baru menjadi bagian nyata dari perubahan yang perlu dihadapi sehari-hari. Program literasi rupiah ini bukan semata edukasi simbolik, melainkan bagian dari upaya menjaga kelancaran transaksi, kepercayaan masyarakat, dan kualitas uang yang beredar.
Meskipun demikian, para pengamat lokal menyoroti bahwa literasi keuangan harus dipadukan dengan akselerasi infrastruktur digital, inklusi keuangan bagi pelaku UMKM, serta kebijakan yang mendukung ekonomi lokal agar benar‐benar memberikan dampak. Tanpa sinergi antar lembaga, pelaku usaha, dan masyarakat, upaya “Cinta, Bangga, Paham Rupiah” berisiko berhenti di tingkat pengetahuan tanpa terwujud dalam perubahan nyata.
Dengan demikian, langkah BI Malang melalui ToT CBP Rupiah menunjukkan kesiapan menghadapi transformasi sistem pembayaran dan ekonomi yang semakin digital. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada keberlanjutan implementasi–meliputi monitoring, pendampingan, serta perbaikan sistem di lapangan–agar rupiah tetap menjadi instrumen yang kuat dan relevan dalam perekonomian Malang Raya.
