Baru-baru ini, Hipdut -singkatan dari hip-hop dangdut- semakin dikenal di Indonesia karena perpaduan hip-hop dan dangdut. Awalnya genre ini diusung oleh grup NDX A.K.A yang dianggap sebagai bentuk ekspresi baru musik Indonesia. Genre ini kemudian semakin populer setelah lagu ‘Garam dan Madu’ yang dinyanyikan oleh Tenxi, Naykilla, dan Jemsi viral bahkan menjadi tren di media sosial seperti TikTok, Youtube, maupun Reels Instagram. Tidak hanya ‘Garam dan Madu’, beberapa lagu hipdut lainnya juga ikut melejit, seperti Ngga Dulu (Akbar Chalay, Ciloqciliq, Zynakal), So Asu (Naykilla), EEE A (Dia), SENCY (Dia, Tenxi), dan masih banyak lagi. Elemen hiphop hadir melalui beat yang energik, sementara elemen dangdut menghadirkan nuansa khas Indonesia dengan cengkok dan melodi yang membuat pendengar ingin bergoyang.
Hipdut disebut sebagai genre musik representasi kreativitas Gen Z yang ekspresif dan up-to-date dengan tren global, tetapi tanpa melupakan akar budaya lokal Indonesia. Keunikan perpadukan hipdut membuat pendengar merasa lebih mudah terhubung, terutama di kalangan Gen Z yang sering mencari musik yang ear-catching dan cocok digunakan sebagai latar belakang musik konten mereka. Dari situ muncul alasan utama mengapa genre musik ini begitu cepat menyebar dan disukai di berbagai media sosial.
Bukan hanya sekadar tren sesaat, hipdut dipandang memiliki potensi menjadi wajah baru musik Indonesia karena mampu membawa musik lokal di panggung internasional. Dengan bantuan platform streaming dan media sosial, lagu-lagu hipdut kini memiliki kesempatan lebih luas untuk dikenal tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri, sekaligus menunjukkan bagaimana selera musik generasi muda Indonesia terus berevolusi dan berani mencoba genre musik yang baru.
